"Yuk, beri tepuk tangan buat diri kalian masing-masing. Good game tadi," ucap pria bertubuh tegap bernama Ronald, yang memakai baju casual, celana pendek, lengkap dengan topi yang menutupi rambut ikalnya.
Ucapan tersebut pun disambut baik oleh orang-orang yang sedang duduk melingkar itu. Mereka dengan kompak menyemangati diri mereka dengan tepukan penuh semangat. Walau keheningan malam yang syahdu terpecah oleh tepukan penuh semangat, aura menyesal seakan membayang-bayangi.
Ya... kumpulan orang-orang yang duduk melingkar itu merupakan tim basket SWG (Swasembada Wise Group). Hari ini, Minggu (7/10/2012), mereka gagal melaju ke babak final, kalah melawan tim NSH-GMC, dengan skor 27-39. Walau demikian, disparitas 12 poin itu, hemat saya, sama sekali tidak memalukan.
Secara singkat, kami (tim SWG) sudah memimpin dua babak awal. Ibaratnya, kejadian Daud mengalahkan Goliat seakan menjadi sebuah kenyataan. Namun, apa daya, manusia hanya bisa berencana, Tuhan juga yang menetapkan. SWG harus puas menunda kemenangan atas NSH-GMC.
Menurut pelatih kepala SWG, Revo, GMC bisa unggul karena dua faktor. Pertama, masalah fisik. SWG yang berisikan pebasket-pebasket muda non profesional ini, hampir tidak pernah melatih fisik untuk mengikuti kompetisi basket yang dilaksanakan kemarin dan hari. Singkat kata, persiapan kami kurang. Berbanding terbalik dengan NSH-GMC. Mereka salah satu klub profesional yang bertanding di tingkat nasional, menempa diri setiap hari.
Fisik yang tidak dilatih menjadi kendala. Babak penentuan, yang biasanya menjadi belokan terakhir sebelum mencapai garis finis, babak ketiga dan keempat, benar-benar memeras habis stamina para pemain utama SWG. Inilah alasan pertama GMC bisa mengandaskan SWG.
Kedua, kesiapan mental antar pemain utama dan pemain cadangan. Revo menjelaskan mental pemain cadangan kurang siap. Penulis yang juga salah satu pemain di SWG, juga membenarkan hal tersebut. Rasa gugup melanda ketika kaki sudah menginjak lapangan basket.
Meski demikian, sehabis game itu, para pemain SWG tetap mengangkat muka mereka tinggi-tinggi. Tidak ada satu pun yang tertunduk. Mengapa? Karena bermain dengan segenap hati sampai-sampai menimbulkan rasa puas. Memang kami kalah, tapi kami kalah dengan berusaha dan memberi perlawanan. Musuh pun, dalam penglihatan awam saya, juga merasa ketar-ketir pada saat kita memimpin perolehan poin di dua babak awal.
Teringatlah saya akan sebuah film yang mengambil kisah inspirasi dari olahraga basket, yaitu film Coach Carter. Di film tersebut mengisahkan sebuah tim basket SMA yang bernama Richmond Oilers. Singkat cerita, Richmond mengikuti sebuah pertandingan, mereka sampai di tahap final, tapi kalah. Meski kalah, mereka tetap bangga dengan timnya. Begitu pun para pendukung Richmond. Di akhir film, ada sebuah adegan dimana para pemain dan pendukung tim itu menyanyikan yel-yel untuk apresiasi atas usaha yang mereka lakukan di lapangan.
Intinya, kita, tim SWG harus berkembang menjadi tim yang lebih baik, secara fisik dan mental. Andaikata suatu hari SWG harus bertemu lagi dengan GMC, kitalah yang harus keluar sebagai pemenang. Pastinya, menang dengan cara yang tidak licik.
Dalam nama Tuhan Yesus, Amin!!!
(Silvanus Alvin)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar